Sudah 6
bulan kita terpisah oleh jarak, jarak yg tak seberapa jauh hanya bisa ditempuh
kurang lebih 1jam melalui pesawat. Tapi bagiku ‘jauh’ itu sangat terasa danya.
Kau sibuk dengan semua pekerjaan mu. Aku mengerti keadaan ini, aku mengerti
pkerjaanmu, aku mngerti usahamu, aku mngerrti tujuan mu, aku mengerti lelah mu,
aku mengerti ‘jauh’ ini.
Bulan-bulan
pertama saat kau meninggalkan kota dimana kita bertemu dan sudah menjalin kasih
selama 1,5tahun, terasa sangat berat bagiku. Berat beban, berat batin, berat
pula rinduku padamu. Terasa berat semua aktifitas yg aku lakukan disini.
Kembali lagi, aku mengerti semua itu...
Bulan-bulan
selanjutnya aku sudah mulai terbiasa dengan semua ‘jauh’ ini, dengan semua
keadaan ini. Keadaan pagi hari ketika kau diharuskan untuk pergi melakukan
aktifitasmu. Malam hari ketika kau sudah selesai dengan aktifitasmu. Aku
mengerti lelah mu... aku mengerti ketika kau harus beristirahat.
Sepanjang
hari aku menantikan malam, dan malampun tak kunjung memberikan kepuasan bagiku.
Sering air mataku jatuh tidak sengaja ketika sedang memikirkan keadaan ini, kau
tak pernah tahu, tapi kadang-kadang tahu. Aku tahu aku kuat, dan aku yakin kau
pun tahu itu. Aku kuat menahan sesak ini, aku kuat menahan rindu ini, aku
kuat...
Kau,
yang selalu aku tunggu, yang selalu aku panjatkan doa pada-Nya, yang selalu aku
nanti, yang selalu aku harap, yang selalu aku rindu...
Kau,
yang selalu sukses membuat aku tersenyum, yang selalu sukses membuat aku
tertawa, yang selalu sukses membuat aku diam, yang selalu sukses membuat aku
salah tingkah, yang selalu sukses membuat aku menangis...
Betapa
susahnya menahan rindu ini untukmu, tapi aku sedah terbiasa...
Betapa
susahnya menahan batin ini untuk bertemu, tapi aku sudah terbiasa...
Betapa
susahnya menahan semua ini, tidakkah kamu?
Bagaimana
caranya agar aku dapat menahan sendiri rasa rindu ini? Rasanya aku tak ingin
selalu mengatakannya padamu, tapi aku terlalu rapuh untuk tidak mengatakannya.
Kadang aku lupa caranya bergandengan tangan, lupa cara
dibonceng, lupa cara tertawa lepas, lupa cara duduk berdampingan, lupa cara
mencubit, lupa cara meng-olok, lupa cara bagaimana caranya agar bisa bermain
denganmu setiap hari minggu.
Aku berfikir,
aku berdoa, aku memperhatikan, malah aku protes kepada Tuhan. Mengapa ini semua
terjadi pada aku, kau, kita? Mengapa dia mencipatakan pedih yang disebut
‘jarak’? mengapa harus aku dan kau?
2tahun
itu menurut ku tidak manusiawi! Sudah 6bulan belakangan ini pun sudah terlalu
lama bagiku! Harus aku menunggu 1tahun lagi?
Baiklah,
akan kucuba bertahan, akan kucoba tersenyum, akan kucoba semuanya agar terlihat
baik-baik saja... J
